“ TRANSFORMASI POLRI YANG HUMANIS , APAKAH PERUBAHAN YANG POSITIF ATAU NEGATIF ? “

Ramah, pelindung, dan perisai negara adalah tiga kata yang menggambarkan sosok Polri dimata masyarakat saat ini. Seperti yang kita ketahui, Polri saat ini masih terus berupaya meningkatkan kemampuan diri untuk menghadapi perkembangan zaman dan tantangan disrupsi teknologi yang begitu canggih di era revolusi 5.0. Di era seperti saat ini, berbagai macam masalah serius mulai bermunculan di masyarakat. Kejahatan yang terkait dengan teknologi saat ini meningkat tajam dan berevolusi menjadi semakin canggih. Jika tidak dihadapi dengan kemampuan yang berimbang,maka dapat dipastikankejahatan itutidakdapat dibendung lagi. Dalam konteks ini, Polri haruslah cepat tanggap di dalam mengantisipasi hal itu. Meskipun hal tersebut akan selalu menjadi beban tambahan Polri di saat tugas-tugas lain menanti, yaitu penuntasan segera kasus-kasus permasalahan yang ada di masyarakat.

Perubahan wajah di tubuh Polri yang semakin mutakhir dan canggih tidak membuatnya menjadi garang dan menakutkan.Justru sebaliknya, Polri mampu menampilkan citra yang humanis serta inovatif. Perubahan Polri yang semakin humanis tersebut tentunya berpotensi untuk meningkatkan empati di masyarakat. Sehingga dari empati dan simpati dari masyarakat maka akan muncul sikap kooperatif masyarakat di dalam memerangi kejahatan. Apalagi di tambah dengan perubahan sikap yang suka menolong tanpa pamrih kepada masyarakat, tanpa membedakan suku, agama dan ras, seperti yang banyak beredar di media sosial, tentunya hal itu semakin menjadikan Polri memiliki citra yang positif di masyarakat. Sebelum menilik lebih jauh dampak perubahan Polri yang semakin humanis, perlu terlebih dahulu melihat kronologi singkat sejarah dari institusi Polri guna memahami dinamika yang ada.